GC adalah salah satu ikon Ausie, selain Opera House (OH) dan Sky Walk di Sydney. Kita tahu kan Opera House ...... yaya betul, Tom Cruise mengambil setting OH dalam filmnya Mission Impossible 4 saat dia bertransaksi vaksin Chimera yang bisa membuat warga Sydney mampus bila vaksin itu dicampurkan dengan air keran (PDAM). Oh ya, sekarang saya baru paham mengapa koq lewat air keran, karena dia penduduk Ausie biasa minum langsung dari air keran, seperti halnya kami saat ini. GC adalah daerah suburb (semacam kecamatan) terletak di pinggir pantai barat Ausie. dengan perencanaan yang baik daerah ini (dulunya rawa dan dihuni suku asli Aborigin)disulap menjadi daerah wisata yang wow.... melebihi Ancol atawa bahkan Kuta dan Nusa Dua di Bali itu. Jadi kalau dipikir-pikir ya.... ini mungkin karena dampak bom Bali 2002. Setelah pemerintah Ausie menganggap Bali tidak aman lagi, maka mereka berusaha keras menciptakan daerah wisata di negeranya sendiri dengan fasilitas dan kenikmatan yang tak kalah dengan Bali. Wauw.... deretan bangunan tinggi (tower) di sepanjang pantainya luar biasa, puanjang dan tinggi2. Bahkan banyaknya tower di GC lebih banyak dari yang di ibukota negera bagiannya (Brisbane).
Perjalanan ke GC bisa ditempuh dengan berbagai moda transportasi. Di Ausie beberapa moda transportasi darat terkoneksi dan terintegrasi dengan baik dibawah manajemen pemerintah. Wilayah transportasi dibagai dalam beberapa zona. Terjauh adalah zona 15. Dari St Lucia, kampus UQ ke City hanya berjarak 2 zona, sementara itu kalau ke GC berjarak 15 zona. Ongkosnya kita bisa pilih single (sekali pake) atau daily (berkali2 pake dalam sehari). Rata2 ongkos daily sebesar 2 kali single. Dinamakan terintegrasi karena saat kita memilih atau harus pindah moda kita tak perlu lagi bayar sepanjang kita telah punya karcis untuk zona yang dimaksud. Ke GC kita kemarin (karena week end kita dapat karcis offpeak jadi lebih murah) bayar $ 17.10. Jarak St Lucia ke GC sekitar 100 km. Moda transportasi yang kami gunakan: City Cat (semacam boat, menyusuri sungai Brisbane) ke Stasiun Brisbane South, Train (kereta api ke terminal terdekat dengan GC, Nerang) dan terakhir naik Bus (ke tempat terluar dari GC). Pulangnya dengan moda yang sama. Wow…. Semua moda disajikan dengan amat sangat baik dan sangat menghormati penumpang. Semua petugas di semua moda senantiasa mengucapkan salam saat masuk dan saat mengantar keluar kepada setiap orang dengan senyum dan tak lelah dan tak dibuat2, luar biasa. Sesuatu yang perlu kita pelajari dan kita terapkan di sekotor pelayanan masyarakat di Negara kita yang “konon” termasuk masyarakat ramah, hehe….
Semua moda sangat nayaman dan aman, bersih dan disiplin meski tak Nampak satupun petugas keliling di dalam moda. Petugas hanya Nampak saat menyambut masuk dan mengantar keluar penumpang. Barangkali petugas dalam satu moda hanya 2 orang, satu melayani penumpang termasuk penjualan karcis, menyambut dan mengantar penumpang, dan satunya lagi operator moda yang cebderung teknis. Jadi efisien. Ini membuat saya terkagum2 bahwa ilmu manajemen yang selama ini saya pelajari betul2 dipraktekkan disini. Bukannya nyinyir kalau saya sulit menemukan praktek manajemen yang semestinya di Indonesia. oleh karena itu saya sering disindir mahasiswa saya tentang; apa gunanya mempelajari ilmu manajemen, karena toh dalam praktek ternyata berbeda dengan teorinya, hehe…. Pertanyaan yang pahit.
Andai saja saya mampu……
Nah sekarang tentang GC. Wouw…….
Habis deh kata2 untuk mendefinisikan keindahan, kerapihan dan kebersihan kota ini. Bagimana kota bisa dibangun dengan amat terencana, dengan memadukan rawa, sungai, delta, pantai, laut, dan hutan menjadi daerah wisata yang layak jual sepanjang masa. Saya mendiskusikan dengan kawan2, bagaimana occupancy rate (OR) hotel dan apartemen di GC? Siapa yang menyewa kamar2 sebanyak itu? Apa ya seperti hotel dan apartemen di Surabaya yang megap2 saat hari2 bisa (umumnya OR nya hanya dibawah 50%) dan hanya saat peak season (Idul Fitri dan Tahun baru) saja yang OR mendekati 90%. Belum lagi pertanyaan siapa pengunjung Sea World, Warner Bross, Wax Museum, Art Galery, Time Zone, Parasailing, Exiting Boating, Romantic Cruising, dan beberapa restoran Top dan VVIP. Beberapa hal itu membuat saya geleng2 kepala, berapa perputaran uang nya? Saya lihat beberapa turis (kayak kami ini hehe…. ) rela membelanjakan uangnya untuk membeli souvenir yang khas Ausie bahkan khas GC karena uniknya, dan bagusnya produk. Sekali lagi berapa uang yang berputar disana? Para ekonom, kawan2 kita lagi menghitung dan ternyata calculator yang dibawanya tak cukup menampung digit dolar yang dihasilkan dari hitungannya itu, hihi…..
Wah, jadi lupa dong kalau cerita ini terus menerus. Padahal sebelum berangkat saya diwanti wanti kawan agar tidak melupakan idiom: “ rule no.1: Right or wrong is my country”, “rule no.2: if my country wrong, see rule no. 1”. Wah kalau sudah ingat idiom ini jadi bergidik bulu ini, hihi….

.jpg)