

Gambar di atas adalah skema Designing Question. Skema tersebut digunakan untuk mengumpulkan data penelitian dengan basis case study.
Skema aslinya adalah yang di sebelah kiri. Inti dari skema asli adalah bagaimana peneliti dengan pendekatan kualitatif dapat mengumpulkan data mengenai hubungan antara perencanaan suksesi dengan kinerja perusahaan keluarga. Terdapat dua kutub dalam masing-masing tahap yaitu bad and good. Terdapat kemungkinan perpindahan dari satu tahap ke tahap lainnya tidak linier. Artinya, sebagai contoh, pada saat perencanaan suksesi baik bisa jadi saat masuk pada tahap internal suksesi menjadi baik dan begitu pula saat diukur kinerjanya bisa menjadi sebaliknya. Kemungkinan-kemungkinan yang terbuka itu adalah hal yang lumrah dalam penelitian kualitatif yang bertumpu pada kekuatan "word". Kemampuan mengintepretasi "word" itulah yang menjadi tolok ukur reputasi peneliti kualitatif.
Kelemahan skema asli:
Saat kami presentasikan di depan Dr. Bob dan Dr. Iean dari The university of Queensland (UQ) terdapat pertanyaan; bagaimana mengukur "good" dan "bad" itu? Meski jawaban dalam penelitian kualitatif seringkali bersifat kata-kata sehingga untuk menganalisisnya diperlukan kemampuan yang subyektif, namun tetap harus dicarikan jalan untuk merasionalkan dan menjadikan ukuran jawaban itu menjadi "umum" dan bisa diterima khalayak kebanyakan. Kelemahan ke dua adalah tidak bisa menjelaskan adanya event dan proses, sesuatu yang sangat penting dalam penelitian sosial dan behavioral. Bahkan Priscilla Cale , 2008, dari University of Connecticut, USA, memperjelas adanya dikotomi proses suksesi dalam family business dengan mengatakan bahwa suksesi adalah proses bukan even. Di sisi lain kita sering melihat bahwa suksesi itu diwujudkan dalam bentuk pergantian (apakah CEO atau kepemilikan).
Berangkat dari kelemahan-kelemahan skema asli itu, saya mengintrodusir skema ke dua yang di sebelah kanan itu. Dalam skema baru itu, peneliti akan terbantu dengan kerangka berfikir itu, terutama dalam pengumpulan data yang kebanyakan bertumpu pada teknik depth interview dan outside observation. Kedua teknik itu memerlukan kemampuan peneliti dalam hal penetrasi untuk bisa memasuki wilayah-wilayah terjadinya dinamika pengambilan keputusan dan transfer of values. Peneliti mutlak mempunyai kapabilitas untuk sebanyak mungkin berada di samping key informant apakah itu old generation atau young generation.
Saya perkenalkan skema baru tersebut dengan pembedaan yang jelas antara event dan proses. Saya juga memulai dari evaluasi kinerja perusahaan keluarga sebelum terjadinya proses inisiasi suksesi dan di akhiri dengan evaluasi kinerja setelah proses post suksesi. Meskipun dalam konten ukuran yang digunakan sama tetapi tolok ukurnya berbeda. Pada saat sebelum proses inisiasi, tolok ukur kinerjanya adalah laba, dan pertumbuhan. Namun saat setelah proses suksesi, tolok ukurnya adalah laba yang berkelanjutan dan pertumbuhan yang meningkat.
Masing-masing event telah disediakan alat ukurnya. Meskipun dalam perkembangan saat interview atau saat observasi terdapat kemungkinan bertambah atau berkurang namun penetapan measurement sebagai penuntun interview sangatlah diperlukan. Bahkan kalau mungkin measurement itu dibangun bersama dengan para informant dengan menggunakan teknik mind-map misalnya.
Yang penting lagi adalah skala dan arti score dari setiap tahapan event dan proses. Dr. Bob bertanya kenapa score dimulai dari angka 1 (bukan 0) dan di akhiri pada angka 9 (bukan 10). saya beragumentasi bahwa angka 0 (zero) adalah nothing yang berarti menegasikan atau menafikan semua perbuatan manusia seolah-olah manusia itu tak berbuat apa-apa. Padahal sebagai pengusaha perusahaan keluarga yang biasanya mulai dari bawah, entreupreneurship menjadi hal pokok dan biasa bagi pengusaha perusahaan keluarga. Artinya, bisa diyakini bahwa sangat jarang atau hampir tak ada pengusaha yang doing nothing. Sementara itu saya menghindari angka 10, karena menurut saya angka 10 adalah perfect yang itu hanya dimiliki oleh Tuhan, Dr. Iean, bisa memahami argumentasi saya ini. belakangan Dr. Bob juga tak keberatan dengan rentang score 1 sampai 9 ini. Namun meskipun demikian kelayakannya masih memerlukan pendapat lain, meskipun saya tak berharap pembicaraan mengenai skala score ini berkepanjangan.
Mohon pertimbangan, saran dan masukan.................


.jpg)